Economics : Analisis Singkat Sebab, Dampak, dan Solusi Penurunan Nilai Tukar Rupiah
Analisis Singkat Sebab, Dampak, dan Solusi Penurunan Nilai Tukar Rupiah
Melemahnya nilai tukar Rupiah atas Dolar
Amerika, dapat terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal
beberapa diantaranya meliputi pencabutan subsidi BBM,
dan meningkatnya utang
luar negeri Indonesia. Sedangkan faktor eksternal adalah pemberhentian stimulus
keuangan Amerika Serikat pasca terjadinya Subprime Motgage Crisis pada
tahun 2008.
Dengan adanya pencabutan subsidi BBM sebesar
Rp 500/liter baik untuk solar maupun premium tertanggal 28 Maret 2015, premium
yang awalnya Rp 6.900/liter kini menjadi Rp 7.400/liter sedangkan solar yang
mulanya Rp 6.400/liter kini menjadi Rp 6.900/liter (Republika 27 Maret 2015)
dan akan kembali meningkat pada tanggal 18 November 2015 nanti menjadi Rp
8.500/liter untuk premium dan Rp7.500/liter (Republika, 16 September 2015),
maka sesuai dengan model sederhana yang diciptakan oleh Mundell-Flemming, maka
kebijakan ini akan menaikan tabungan nasional atau dengan kata lain penurunan
pengeluaran pemerintah. Dampak dari kebijakan ini adalah menurunnya pengeluaran
yang direncanakan (expected expenditure) yang digambarkan dengan
bergesernya keseimbangan Keynesian kepada tingkat expenditure yang lebih
sedikit daripada sebelumnya. Sesuai dengan model perekonomian Mundell-Flemming,
maka hal ini akan menggeser kurva IS* (yang merupakan kurva yang menggambarkan
korelasi antara Kurva Ekspor Neto dan Perpotongan Keynesian) ke arah kiri dan
menciptakan keseimbangan Mundell-Flemming baru di tingkat kurs yang lebih
rendah dan tingkat pendapatan atau output nasional yang sama daripada sebelum
kebijakan ini diterapkan.
Selanjutnya, faktor yang tak kalah penting
adalah menigkatnya utang pemerintah tahun ini. Bank Indonesia melansir, posisi
ULN (Utang Luar Negeri) Indonesia pada akhir Juli 2015 tercatat sebesar
USD303,7 miliar, terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD134,5 miliar (44,3%
dari total ULN) dan ULN sektor swasta USD169,2 miliar (55,7% dari total ULN.
Angka ini menigkat sebesar 3.7 % (yoy) dibandingkan dengan bulan lalu).(Bank
Indonesia, www.bi.go.id). Pertumbuhan utang luar negeri ini
menunjukan bahwa permintaan atas mata uang asing meingkat terutama atas
USD yang besarnya 29.11 % dari total
utang luar negeri (Statistik Utang Luar Negeri Indoensia 2015, Bank Indonesia).
Sesuai dengan hukum permintaan, maka nilai tukar USD atas Rupiah akan semakin
mengkuat, atau degan kata lain Rupiah terdepresiasi.
Selain itu, faktor eksternal juga berpengaruh
dalam melemahnya Rupiah atas Dolar Amerika. Sejak pemberhentian Quantitative Easing atau stimulus
keuangan oleh Federal Reserve pada bulan Desember 2014 lalu dan akan berlanjut
selama tahun tahun fiskal 2014, Federal Reserve akan cenderung terus mencetak
uang guna membeli obligasi atau ast-aset keuangan lainnya dari bank dan lebaga
keuangan lain di Amerika Serikat. Tujuan utama dari program ini adalah untuk
menyuntikan uang ke lembaga intermediasi keuangan (dalam hal ini adalah
perbankan dan lembaga keuangan non-bank). Pemberhentian stimulus keuangan
Amerika Serikat ini akan menyebabkan penarikan sejumlah investesai portofolio
di negara emerging market seperti Indonesia karena peluang investasi di
Amerika Serikat lebih memberikan hasil yang lebih menjanjikan. Maka,
berkurangnya investasi portofolio ini akan mengakibatkan meningkatnya arus
modal keluar neto atau Net Capital Outflow (NCO). Dengan meningkatnya
NCO ini, maka keseimbangan pada pasar valuta asing Indonesia juga akan berubah
pada tingkat nilai tukar kurs yang lebih rendah namun nilai ekspor neto lebih
tinggi.
Akibat dari pelemahan nilai tukar tersebut
adalah diantara lain adalah 1). Bertambahnya nilai utang luar negeri Indonesia.
Hal ini dikarenakan sebagian besar utang luar negeri Indonesia yaitu sebesar
29.11 % dari total utang. Maka pertambahan persentase pelemahan Rupiah akan
berbanding lurus dengan penambahan presentase utang luar negri Indonesia yang
harus dibayar beserta bunga atas pinjaman tersebut. 2). Bertambahnya tingkat
kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) presentase jumlah penduduk
miskin Indonesia terhadap total penduduk per bulan Maret 2015 adalah 11,22%
atau meningkat 4.40% dari bulan lalu. Pelemahan Rupiah menyebabkan barang dan
jasa di Indonesia semakin mahal karena sebagian besar bahan baku industri di
indonesia bergantung pada import (High Dependent on Import). 3).
Meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hingga akhir Agustus, Kementerian
Ketenagakerjaan Indonesia melansir bahwa sudah ada 26.000 tenaga kerja
Indonesia yang telah mengalami PHK (Bisnis.Lipunan6.com 31 Agustus 2015).
Tingkat PHK yang ini disebabkan karena beberapa perusahaan terutama yang masih
bergantung pada impor bahan baku seperti otomotif dan tekstil, harus membayar
lebih mahal bahan baku yang mereka dapatkan dari luar negeri sebagai akibat
melemahnya nilai tukar Rupiah ini.Mahalnya bahan baku ini, memuat perusahaan
mau tidak mau memberhentikan pekerjanya yang dnilai kurang produktif. 4)
Melemahnya pasar modal. Sampai pertengahan September, IHSG masih menunjukan
tern yang negatif (Bursa Efek Indonesia). Melemahnya Rupiah semakin membuat investor-investor
lebih percaya untuk menanamkan modalnya di negara lain yang nilai mata uangnya
lebih stabil. 5). Meningkatnya ekspor dan menurunnya impor. Menurut BPS, pada
tahun ini terjadi penurunan impor sebesar 20.09% untuk kategori bahan
baku/penolong dan 16.13% untuk barang modal dari tahun 2014 (Republika, 16
September 2015). Hal ini dikarenakan barang dan jasa ekspor Indonesia menjadi
relatif lebih murah dibandingkan barang dan jasa dari negara lain.
Peran Lembaga keuangan dalam menghadapi
masalah ini salah satunya adalah dengan meningkatkan investati terutama
investasi langsung atau Direct Investment. Mempermudah pemberian kredit
produksi kepada perusahaan-perusahaan tertama kepada UMKM akan sangat membantu
perusahaan-perusahaan tersebut untuk melakukan ekspansi usaha. Dampak yang
ditimbulkan dari ekspansi ini adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru,
sehingga akan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Selain itu,
kebijakan ini juga akan berdampak pada meningkatnya output nasional. Dengan meningkatnya
output nasional, maka perekonomian nasional akan semakin sehat, dan akan
berdampak pada kondisi rupiah juga akan membaik.Gambaran sederhana dari proses
ini adalah bergesernya kurva IS* (Model Mundell-Flemming) ke kanan atau ke
tingkat nilai tukar lebih kuat dikarenakan bergesernya Perotongan Keynesian
akibat menigkatnya output nasional.
Proyeksi nilai tukar masa mendatang masih akan
terus melemah, mengingat kebijakan Federal Reserve yang akan menaikan suku
bunga yang merupakan salah satu rangkaian dari penghentian kebijakan QE, serta
menimbang kebijakan pemerintah Tiongkok terkait devaluasi Yuan. Dengan
meningkatnya suku bunga Amerika Serikat, maka pelarian modal dari Indonesia ke
Amerika Serikat semakin besar, sehingga akan semakin melemahkan Rupiah atas
Dolar. Sementara kebijakan devaluasi Yuan akan berakibat pada menigkatnya impor
Indonesia atas Tiongkok karena harga barang dan jasa di negara Tiongkok relatif
lebih murah daripada barang dan jasa domestik. Apalagi jika melihat data,
Tiongkok merupakan negara pengekspor terbesar kepada Indonesia (BPS, Data
Ekspor Impor Menurut Negara Asal), maka kebijakan ini akan berdampak pada
pelemahan Rupiah. Namun, mengingat kebijakan pemerintah yang berorientasi pada
penggerakan kembali sektor riil yang mulai diterapkan mulai September 2015,
dapat membawa setitik harapan untuk perbaikan ekonomi Indonesia dan penguatan
nilai tukar Rupiah.
Terkait pelelamahan Rupiah tersebut, kami
memberikan bebarapa solusi yang kami tunjukan kepada masyarakat, pemerintah,
dan perusahaan-perusahaan domestik. Bagi masyarakat, kami menyarankan untuk
memulai melakukan investasi baik secara langsung maupun porofolio. Hal ini
dikarenakan karena investasi akan mendorong penguatan sektor riil dan akan
berdampak pada penguatan perekonomian nasional. Untuk pemerintah, kami
mengusulkan untuk mempermudah investasi dalam negeri. Pemerintah perlu
melakukan deregulasi terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak ramah investasi.
Hal ini ditunjukan agar meningkatnya produktivitas, serta menciptakan lapangan
pekerjaan baru yang berdampak pada penguatan ekonomi nasional. Pemerintah juga
diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat dengan terus menjaga tingkat
harga dan inflasi pada level yang wajar. Pemerintah juga diharapkan dapat
mendorong ekspor Indonesia dengan mempermudah akses serta mengurangi pajak dan
memberikan subsidi bagi industri-industri yang
berorientasi ekspor. Kebijakan mempermudah ekspor ini diharapkan akan
dapat memberikan andil cukup besar dalam penguatan Rupiah. Sedangkan bagi
perusahaan-perusahaan, diharapkan dapat meningkatkan asetnya dengan cara
melakukan go public. Langkah ini diharapkan selain dapat meningkatkan
aset perusahaan, namun juga menambah lapangan pekerjaan melalui
ekspansi-ekspansi usaha-usaha yang dilakukan. Selain itu, go public juga
menambah lahan investasi bagi masyarakat. Alasan kami menekankan investasi
karena investasi sangat potensial untuk dilakukan dalam waktu yang relatif
secara cepat, sedangkan dampak yang terjadi juga cukup signifikan dalam
meningkatkan perekonomian nasional.
Comments
Post a Comment