Economics : Analisis Singkat Sebab, Dampak, dan Solusi Penurunan Nilai Tukar Rupiah

Analisis Singkat Sebab, Dampak, dan Solusi Penurunan Nilai Tukar Rupiah

http://cdn.tmpo.co/data/2015/08/24/id_430667/430667_620.jpg




Melemahnya nilai tukar Rupiah atas Dolar Amerika, dapat terjadi karena faktor internal dan eksternal. Faktor internal beberapa diantaranya meliputi pencabutan subsidi BBM,
dan meningkatnya utang luar negeri Indonesia. Sedangkan faktor eksternal adalah pemberhentian stimulus keuangan Amerika Serikat pasca terjadinya Subprime Motgage Crisis pada tahun 2008.


Dengan adanya pencabutan subsidi BBM sebesar Rp 500/liter baik untuk solar maupun premium tertanggal 28 Maret 2015, premium yang awalnya Rp 6.900/liter kini menjadi Rp 7.400/liter sedangkan solar yang mulanya Rp 6.400/liter kini menjadi Rp 6.900/liter (Republika 27 Maret 2015) dan akan kembali meningkat pada tanggal 18 November 2015 nanti menjadi Rp 8.500/liter untuk premium dan Rp7.500/liter (Republika, 16 September 2015), maka sesuai dengan model sederhana yang diciptakan oleh Mundell-Flemming, maka kebijakan ini akan menaikan tabungan nasional atau dengan kata lain penurunan pengeluaran pemerintah. Dampak dari kebijakan ini adalah menurunnya pengeluaran yang direncanakan (expected expenditure) yang digambarkan dengan bergesernya keseimbangan Keynesian kepada tingkat expenditure yang lebih sedikit daripada sebelumnya. Sesuai dengan model perekonomian Mundell-Flemming, maka hal ini akan menggeser kurva IS* (yang merupakan kurva yang menggambarkan korelasi antara Kurva Ekspor Neto dan Perpotongan Keynesian) ke arah kiri dan menciptakan keseimbangan Mundell-Flemming baru di tingkat kurs yang lebih rendah dan tingkat pendapatan atau output nasional yang sama daripada sebelum kebijakan ini diterapkan.


Selanjutnya, faktor yang tak kalah penting adalah menigkatnya utang pemerintah tahun ini. Bank Indonesia melansir, posisi ULN (Utang Luar Negeri) Indonesia pada akhir Juli 2015 tercatat sebesar USD303,7 miliar, terdiri dari ULN sektor publik sebesar USD134,5 miliar (44,3% dari total ULN) dan ULN sektor swasta USD169,2 miliar (55,7% dari total ULN. Angka ini menigkat sebesar 3.7 % (yoy) dibandingkan dengan bulan lalu).(Bank Indonesia, www.bi.go.id). Pertumbuhan utang luar negeri ini menunjukan bahwa permintaan atas mata uang asing meingkat terutama atas USD  yang besarnya 29.11 % dari total utang luar negeri (Statistik Utang Luar Negeri Indoensia 2015, Bank Indonesia). Sesuai dengan hukum permintaan, maka nilai tukar USD atas Rupiah akan semakin mengkuat, atau degan kata lain Rupiah terdepresiasi.


Selain itu, faktor eksternal juga berpengaruh dalam melemahnya Rupiah atas Dolar Amerika. Sejak pemberhentian Quantitative Easing atau stimulus keuangan oleh Federal Reserve pada bulan Desember 2014 lalu dan akan berlanjut selama tahun tahun fiskal 2014, Federal Reserve akan cenderung terus mencetak uang guna membeli obligasi atau ast-aset keuangan lainnya dari bank dan lebaga keuangan lain di Amerika Serikat. Tujuan utama dari program ini adalah untuk menyuntikan uang ke lembaga intermediasi keuangan (dalam hal ini adalah perbankan dan lembaga keuangan non-bank). Pemberhentian stimulus keuangan Amerika Serikat ini akan menyebabkan penarikan sejumlah investesai portofolio di negara emerging market seperti Indonesia karena peluang investasi di Amerika Serikat lebih memberikan hasil yang lebih menjanjikan. Maka, berkurangnya investasi portofolio ini akan mengakibatkan meningkatnya arus modal keluar neto atau Net Capital Outflow (NCO). Dengan meningkatnya NCO ini, maka keseimbangan pada pasar valuta asing Indonesia juga akan berubah pada tingkat nilai tukar kurs yang lebih rendah namun nilai ekspor neto lebih tinggi.


Akibat dari pelemahan nilai tukar tersebut adalah diantara lain adalah 1). Bertambahnya nilai utang luar negeri Indonesia. Hal ini dikarenakan sebagian besar utang luar negeri Indonesia yaitu sebesar 29.11 % dari total utang. Maka pertambahan persentase pelemahan Rupiah akan berbanding lurus dengan penambahan presentase utang luar negri Indonesia yang harus dibayar beserta bunga atas pinjaman tersebut. 2). Bertambahnya tingkat kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) presentase jumlah penduduk miskin Indonesia terhadap total penduduk per bulan Maret 2015 adalah 11,22% atau meningkat 4.40% dari bulan lalu. Pelemahan Rupiah menyebabkan barang dan jasa di Indonesia semakin mahal karena sebagian besar bahan baku industri di indonesia bergantung pada import (High Dependent on Import). 3). Meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Hingga akhir Agustus, Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia melansir bahwa sudah ada 26.000 tenaga kerja Indonesia yang telah mengalami PHK (Bisnis.Lipunan6.com 31 Agustus 2015). Tingkat PHK yang ini disebabkan karena beberapa perusahaan terutama yang masih bergantung pada impor bahan baku seperti otomotif dan tekstil, harus membayar lebih mahal bahan baku yang mereka dapatkan dari luar negeri sebagai akibat melemahnya nilai tukar Rupiah ini.Mahalnya bahan baku ini, memuat perusahaan mau tidak mau memberhentikan pekerjanya yang dnilai kurang produktif. 4) Melemahnya pasar modal. Sampai pertengahan September, IHSG masih menunjukan tern yang negatif (Bursa Efek Indonesia). Melemahnya Rupiah semakin membuat investor-investor lebih percaya untuk menanamkan modalnya di negara lain yang nilai mata uangnya lebih stabil. 5). Meningkatnya ekspor dan menurunnya impor. Menurut BPS, pada tahun ini terjadi penurunan impor sebesar 20.09% untuk kategori bahan baku/penolong dan 16.13% untuk barang modal dari tahun 2014 (Republika, 16 September 2015). Hal ini dikarenakan barang dan jasa ekspor Indonesia menjadi relatif lebih murah dibandingkan barang dan jasa dari negara lain.


Peran Lembaga keuangan dalam menghadapi masalah ini salah satunya adalah dengan meningkatkan investati terutama investasi langsung atau Direct Investment. Mempermudah pemberian kredit produksi kepada perusahaan-perusahaan tertama kepada UMKM akan sangat membantu perusahaan-perusahaan tersebut untuk melakukan ekspansi usaha. Dampak yang ditimbulkan dari ekspansi ini adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru, sehingga akan mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia. Selain itu, kebijakan ini juga akan berdampak pada meningkatnya output nasional. Dengan meningkatnya output nasional, maka perekonomian nasional akan semakin sehat, dan akan berdampak pada kondisi rupiah juga akan membaik.Gambaran sederhana dari proses ini adalah bergesernya kurva IS* (Model Mundell-Flemming) ke kanan atau ke tingkat nilai tukar lebih kuat dikarenakan bergesernya Perotongan Keynesian akibat menigkatnya output nasional.


Proyeksi nilai tukar masa mendatang masih akan terus melemah, mengingat kebijakan Federal Reserve yang akan menaikan suku bunga yang merupakan salah satu rangkaian dari penghentian kebijakan QE, serta menimbang kebijakan pemerintah Tiongkok terkait devaluasi Yuan. Dengan meningkatnya suku bunga Amerika Serikat, maka pelarian modal dari Indonesia ke Amerika Serikat semakin besar, sehingga akan semakin melemahkan Rupiah atas Dolar. Sementara kebijakan devaluasi Yuan akan berakibat pada menigkatnya impor Indonesia atas Tiongkok karena harga barang dan jasa di negara Tiongkok relatif lebih murah daripada barang dan jasa domestik. Apalagi jika melihat data, Tiongkok merupakan negara pengekspor terbesar kepada Indonesia (BPS, Data Ekspor Impor Menurut Negara Asal), maka kebijakan ini akan berdampak pada pelemahan Rupiah. Namun, mengingat kebijakan pemerintah yang berorientasi pada penggerakan kembali sektor riil yang mulai diterapkan mulai September 2015, dapat membawa setitik harapan untuk perbaikan ekonomi Indonesia dan penguatan nilai tukar Rupiah.


Terkait pelelamahan Rupiah tersebut, kami memberikan bebarapa solusi yang kami tunjukan kepada masyarakat, pemerintah, dan perusahaan-perusahaan domestik. Bagi masyarakat, kami menyarankan untuk memulai melakukan investasi baik secara langsung maupun porofolio. Hal ini dikarenakan karena investasi akan mendorong penguatan sektor riil dan akan berdampak pada penguatan perekonomian nasional. Untuk pemerintah, kami mengusulkan untuk mempermudah investasi dalam negeri. Pemerintah perlu melakukan deregulasi terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak ramah investasi. Hal ini ditunjukan agar meningkatnya produktivitas, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru yang berdampak pada penguatan ekonomi nasional. Pemerintah juga diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat dengan terus menjaga tingkat harga dan inflasi pada level yang wajar. Pemerintah juga diharapkan dapat mendorong ekspor Indonesia dengan mempermudah akses serta mengurangi pajak dan memberikan subsidi bagi industri-industri yang  berorientasi ekspor. Kebijakan mempermudah ekspor ini diharapkan akan dapat memberikan andil cukup besar dalam penguatan Rupiah. Sedangkan bagi perusahaan-perusahaan, diharapkan dapat meningkatkan asetnya dengan cara melakukan go public. Langkah ini diharapkan selain dapat meningkatkan aset perusahaan, namun juga menambah lapangan pekerjaan melalui ekspansi-ekspansi usaha-usaha yang dilakukan. Selain itu, go public juga menambah lahan investasi bagi masyarakat. Alasan kami menekankan investasi karena investasi sangat potensial untuk dilakukan dalam waktu yang relatif secara cepat, sedangkan dampak yang terjadi juga cukup signifikan dalam meningkatkan perekonomian nasional.

Comments