Economics : Analisa Dampak dan Kebijakan Masalah Infrastruktur di Indonesia
Analisa Dampak dan Kebijakan Masalah Infrastruktur di Indonesia
In Discussion With Marwatunnisa AlMubarakah and Alvin Haidar
Menurut hasil survei “Quality
of Overall Infrastructure” oleh World Economic Forum menyatakan bahwa
Indonesia berada pada posisi 82 dari 142 negara. Hasil ini menunjukan masih
rendahnya kualitas infrastruktur dalam
upaya mempercepat pembangunan ekonomi
sebagai emerging country atau negara berkembang.
Salah satunya adalah
pembangunan infrastruktur transportasi umum sebagai penunjang aktivitas ekonomi
masyarakat. Panjang jalan di Indonesia hanya 501,969 km dari luas daratan
1.919.443 km2. Selain itu pengunaan kendaraan bermotor dari
tahun-ketahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 jumlah kendaraan bermotor
yang membebani jalan sebesar 94 juta, meningkat hampir 11 % dari tahun
sebelumnya, berbanding terbalik dengan pembangunan infrastruktur jalan yang
hanya mengalami peningkatan sebesar 2%. (BPS, 2012).
Berikut data
peringkat negara menurut kualitas infrastruktur secara umum
Rank
|
Country
|
Value
|
1
|
Switzerland
|
6.7
|
2
|
Singapore
|
6.6
|
23
|
Malaysia
|
5.7
|
24
|
United
States
|
5.7
|
47
|
Thailand
|
4.7
|
48
|
Srilanka
|
4.7
|
81
|
Kenya
|
3.9
|
82
|
Indonesia
|
3.9
|
83
|
Tajkistan
|
3.8
|
Sumber:
The Global Competitiveness Report 2011-2012, World Economic Forum
Beberapa faktor penyebab tingginya volume kendaraan yang tidak
diimbangi dengan peningkatan pembangunan infrastruktur adalah tingginya dana
subsidi yang dialokasikan pemerintah untuk BBM. Hal ini dibuktikan dengan data
yang menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara ke-12 dengan harga BBM termurah,
yaitu sekitar $3.68.[1] Murahnya
harga BBM di Indonesia membuat permintaan atas mobil sebagai barang
komplementernya pun meningkat. Kebijakan mobil LCGC (Low-Cost-Green-Car)
juga menjadi salah satu faktor yang semakin mempermudah masyarakat untuk
memiliki mobil pribadi. Berikut data subsidi Indonesia dari tahun 2011 hingga
tahun 2013.
Selain itu, alat
transportasi publik di Indonesia seperti angkutan umum, bus, dan busway yang
tidak terawat dan kurang nyaman, membuat sebagian besar masyarakat Indonesia
cenderung memilih untuk menggunakan mobil pribadi dibanding memakai angkutan
umum. Jumlah angkutan umum di Indonesia yang tidak layak pakai dan masih
beroperasi membuat masalah yang lebih serius di jalan raya. Fasilitas yang
kurang bersih dan tidak memadai yang biasa terlihat contohnya seperti di halte
busway dan di beberapa tempat umum pemberhentian transportasi lainnya.
Dampak dari
bertambahnya volume kendaraan yang tidak sebanding dengan pembangunan
infrastruktur, antara lain yaitu berkurangnya mobilitas perekonomian.
Konkretnya, yaitu kemacetan yang melanda para pekerja dan menghambat mereka
untuk meningkatkan produktivitas, karena waktu ideal mereka untuk bekerja
berkurang sehingga hasil produksi menurun. Hal ini menyebabkan perusahaan harus
menanggung biaya produksi dan biaya distribusi yang lebih besar. Dampaknya
adalah meningkatnya harga barang secara agregat atau turunnya output nasional
yang dihasilkan.
Pembangunan infrastuktur melalui penambahan panjang jalan untuk
menampung volume kendaraan menjadi salah satu kebijakan yang bisa dilakukan.
Berdasarkan data dari Kementrian Keuangan Indonesia, alokasi anggaran untuk
pembangunan infrasturktur semakin meningkat dari tahun-ke tahun. Bahkan tahun
2014 terjadi peningkatan sebesar 11.77% dari tahun 2013.[2]
Namun, untuk merealisasikan pembangunan infrasturktur membutuhkan waktu yang
tidak sebentar. Selain itu, pembangunan infrastruktur juga dapat mengurangi
mobilitas transportasi bahkan menambah kemacetan karena ditutupnya sebagian
ruas jalan, misalnya pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) di Jakarta.
Pembangunan infrastruktur juga kurang didukung oleh bentang alam di Indonesia
yang tidak kondusif.
Sedangkan
kebijakan lainnya yaitu pengurangan kendaraan pribadi melalui pembenahan
transportasi publik. Selain dapat menekan jumlah kendaraan pribadi, kebijakan
ini tentu juga akan mengubah kepribadian masyarakat. Pembenahan
transportasi publik baik dari segi kebersihan, pelayanan, serta fasilitas pendukung
dapat meningkatkan kenyamanan penggunanya sehingga akan mendorong masyarakat
untuk lebih menggunakan kendaraan umum dibanding mobil pribadi. Hal ini akan berdampak pada menurunnya angka kemacetan
sehingga mobilitas perekonomian pun meningkat. Selain itu, kebijakan ini juga memiliki eksternalitas positif yaitu
dapat mengurangi polusi dengan mengecilnya volume kendaraan pribadi. Menurut
data Bank Dunia, Indonesia memiliki tingkat emisi CO2 yang cukup
tinggi, yaitu sebesar 1.803 ton perkapita.[3] Bertambahnya
jumlah transportasi publik akan membuka lapangan pekerjaan baru sehingga
mengurangi pengangguran di Indonesia.
Dari analisis
diatas, kedua kebijakan memiliki satu persamaan yaitu dampak jangka panjang
yang mendukung pembangunan nasional. Namun, kebijakan pertama, memiliki dampak
jangka pendek yang kurang bagus, yaitu bertambahnya kemacetan. Maka, kami
memilih kebijakan kedua untuk mengatasi masalah ini.
Comments
Post a Comment