Religi : Al-Qur’an Falsification Test
Al-Qur’an
Falsification Test
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ
مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا كَثِيرًا
( 82 ) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al
Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Apakah anda percaya akan keorisinalitas AL-Qur’an?
Setiap hari anda paling tidak anda membaca 21 kali surat Al-Fatihah
yang
merupakan preambul dari kitab tersebut di setiap rakaat shalat anda, belum
dihitung kalau anda menambah shalat anda dengan berbagai macam shalat sunnah. Setiap
minggu, anda paling tidak mendengar khatib membacakan dua kutipan ayat dari
kitab tersebut. Namun, pernahkan terbesit dalam pikiran anda untuk menguji
keorisinalitas kitab tersebut? Mungkin anda berkata ‘Ah, mana mungkin Allah memberikan
uji kepalsuan dalam Al-Qur’an yang akan melemahkan firman-Nya sendiri’. Namun
anda salah besar.
Allah telah
menyediakan banyak sekali uji kepalsuan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Dan
uji kepalsuan ini sangat terbuka bagi seluruh umat manusia. Ada sebagian uji
kepalsuan yang hanya diperuntukan pada masa turunnya wahyu Al-Qur’an kepada al-amin,
sebagian yang lain diperuntukan untuk masa kini, dan sebagian yang lain
diperuntukan hingga akhir kiamat.
Salah satu uji
kepalsuan yang Allah berikan yang diperuntukan ketika masa turunnya wahyu
adalah kisah Abu Lahab. Siapakah Abu Lahab? Kita pasti sudah sangat mengenal
sosok yang selalu membenci Rasulullah disetiap perbuatannya itu. Nama sudah
sangat familiar dibicarakan di buku-buku sejarah kebudayaan islam baik yang
digunakan sebagai buku teks sekolah, maupun buku-buku umum yang menghiasi rak-rak
buku anda. Abu Lahab adalah paman dari Nabi Muhammad S.A.W. sekaligus salah
satu musuh Nabi yang selalu memusuhinya. Setiap kali ada seseorang yang
berbicara dengan Rasulullah, ia selalu menunggu dari kejauhan. Dan ketika
Rasulullah pergi, ia lalu menghampiri orang tersebut dan menanyakan apa yang
dikatakan Muhammad kepadanya. Dan jika orang tersebut mengatakan bahwa Muhammad
berkata tentang hitam, maka Abu Lahab berkata bahwa yang sebenarnya adalah
putih. Dan jika orang tersebut mengatakan bahwa Muhammad menyuruhnya untuk
berbelok ke kanan, maka Abu Lahab akan berkata bahwa jalan yang sebenarnya
adalah ke kiri, dan begitu pula seterusnya. Dia selalu mengatakan kebalikan
dari apa yang Rasulullah sampaikan dan selalu menyalahkan segala bentuk
perkataanya. Dia menggunakan segala cara, bahkan berbohong berulang-ulang kali
hanya untuk membuktikan bahwa Rasulullah itu salah.
Semua dari kita
mengetahui bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat surat Al-Lahab, surat ke-111 yang
mengisahkan tentangnya beserta istrinya, sang pembawa kayu bakar.
1. تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ
2. مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
3. سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
4. وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ
5. فِى جِيدِهَا حَبْلٌ
مِّن مَّسَدٍۭ
( 1 ) Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan
sesungguhnya dia akan binasa.
( 2 ) Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya
dan apa yang ia usahakan.
( 3 ) Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
bergejolak.
( 4 ) Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu
bakar.
( 5 ) Yang di lehernya ada tali
dari sabut.
Di dalam surat ini disebutkan bahwa Abu Lahab beserta istrinya itu akan
dibakar di api neraka. Apa artinya? Hal ini menandakan bahwa hingga matanya
benar-benar tertutup dan tidak akan terbuka lagi untuk selama-selamanya,
hidayah Allah tidak akan pernah menghampiri hatinya. Atau dengan bahasa lain bahwa
hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia tidak akan masuk islam. Surat ini
tidaklah diturunkan setelah Abu Lahab meninggal. Namun jauh sebelumnya,
tepatnya 10 tahun sebelum akhirnya ia meninggal di perang Badar. Ketika surat ini diwahyukan, satu-satunya yang
perlu dilakukan oleh Abu Lahab adalah dengan masuk islam, maka Al-Qur’an pun
akan terbukti salah. Disamping itu, tidak sedikit pula teman-temannya dalam
jangka waktu 10 tahun, dari saat surat ini turun hingga wafatnya Abu lahab,
yang mengucapkan dua kalimat syahadat dan menyatakan keislamnnya di hadapan
rasul. Namun, selama 10 tahun hingga akhirnya meninggal, ia tidak pernah mau
untuk menerima ajaran rasul. Bukan berarti Rasulullah tidak pernah mengajaknya
dan membiarkan perbuatan-perbuatannya agar ajarannya terbukti benar dan
menunjukan bahwa Al-Qur’an benar-benar dari Allah dan bukan karangannya
sendiri. Namun justru sebaliknya. Rasulullah senantiasa mengajaknya kepada
Islam dan selalu mengajaknya untuk menyembah Allah semata. “Kau masuk Islam,
dan wahyu yang kubuawa ini akan terbukti salah” kurang lebih begitulah kata
rasul kepada Abu Lahab. Sangat mudah,bukan? Satu-satunya yang perlu dilakukan
oleh Abu lahab adalah mengucapkan “Aku adalah seorang Muslim.” Selesai. Ia
tidak perlu berperilaku seperti orang muslim. Ia tidak perlu shalat, ia tidak
perlu menunaikan zakat, ia tidak perlu puasa di bulan Ramadhan. Satu-satunya
yang perlu dikatannya adalah “Aku adalah seorang muslim” dan selesai. Al-Qur’an
akan terbukti salah dan semua ajaran rasul akan ditinggalkan karena tidak
sesuai dengan kondisi yang sudah ada. Sangat mudah, bukan? Abu Lahab sudah seringkali berbohong kepada
Rasulullah. Dan ia hanya perlu berbohong
satu kali lagi untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an itu salah dan semua yang
dibawa Nabi Muhammad adalah omong kosong belaka. Tapi nyatanya? Ia tidak bisa.
Ia tidak bisa mengucapkan kalimat tersebut. Karena penulis Al-Qur;an adalah
Tuhan. Tuhan yang menguasai semua hati manusia. Tuhan yang menunjukan kebenaran
kepada siapa saja yang Ia kehendaki, dan menunjukan kepada kebathilan kepada siapa
yang Ia kehendaki. Tuhan yang memang tidak menghendaki cahaya-Nya hinggap di
hati Abu Lahab. Uji kepalsuan. Dan selama 10 tahun tidak dapat dilakukan untuk
membantah keaslian Al-Qur’an.
Uji kepalsuan
berikutnya terdapat dalam surat Al-Baqarah(2) : 94-96 yang berbunyi :
94. قُلْ إِن كَانَتْ لَكُمُ ٱلدَّارُ
ٱلْءَاخِرَةُ عِندَ ٱللَّهِ خَالِصَةً مِّن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُا۟ ٱلْمَوْتَ
إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
95. وَلَن يَتَمَنَّوْهُ أَبَدًۢا
بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ
96. وَلَتَجِدَنَّهُمْ
أَحْرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَيَوٰةٍ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ ۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ
لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِۦ مِنَ ٱلْعَذَابِ أَن يُعَمَّرَ
ۗ وَٱللَّهُ بَصِيرٌۢ بِمَا يَعْمَلُونَ
( 94 ) Katakanlah: "Jika kamu
(menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah,
bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.
( 95 ) Dan sekali-kali mereka tidak
akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang
telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa
orang-orang yang aniaya.
( 96 ) Dan sungguh kamu akan
mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan
(lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar
diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan
menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Ayat ini mengisahkan tentang sekelompok Yahudi yang mengatakan kepada
sekelompok Muslim bahwa kampung akhirat (surga) adalah milik mereka (kaum
Yahudi), lalu kemudian turunlah ayat ini sebagai tantangan kepada kaum Yahudi
tersebut. "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus
untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu),
jika kamu memang benar”. Ayat ini menunjukan tantangan kepada kaum Yahudi
jikalau memang surga adalah untuk kaum Yahudi, maka suruh mereka untuk meminta
kematian. Dan ayat berlanjut dengan “
Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya”.
Satu-satunya yang harus dilakukan oleh sekelompok Yahudi untuk membuktikan
Qur’an itu salah, adalah dengan mengatakan “Aku ingin mati”. Sangat mudah,
bukan? Hal ini bukan berarti bahwa sekelompok Yhaudi itu harus mati. Bukan pula
berarti mereka harus bunuh diri. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah
berkata “Aku ingin mati”. Untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an itu salah adalah
hanya dengan tiga kalimat itu. Allah kemudian melanjutkan melalui ayat
berikutnya yang intinya mereka tidak akan menginginkan kematian itu
selama-lamanya, meskipun seribu tahun diberikan kepada mereka. Bukankan sangat
mudah untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an itu salah? Kedua contoh uji kepalsuan
ini adalah beberapa bentuk uji kepalsuan Al-Qur’an yang dikhususkan ketika masa
turunnya Al-Qur’an.
Namun mungkin engkau berkata “Tapi itu,kan masa
lalu? Aku ingin membuktikan bahwa Al-Qur’an itu salah!” Semua orang masih
memiliki kesempatan untuk melakukanya. Allah berfirman dalam surat
Al-Maidah(5): 82
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ
ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟ ۖ وَلَتَجِدَنَّ
أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ قَالُوٓا۟ إِنَّا نَصَٰرَىٰ
ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
( 82 ) Sesungguhnya kamu dapati
orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman
ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati
yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah
orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang
demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani)
terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka
tidak menymbongkan diri.
Al-Qur’an berkata
bahwa yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang
Yahudi dan orang Musyrik, dan yang paling dekat persahabatannya dengan
orang-orang beriman adalah orang-orang Kristen. Disini, Al-Qur’an berfirman
maksudnya secara keseluruhan. Ada banyak orang Yahudi yang masuk Islam, dan
mungkin ada beberapa Yahudi yang lebih baik dibandingkan orang Krosten kepada
orang-orang Muslim. Tapi konteks Al-Qur’an disini adalah yang bersifat
keseluruhan, yaitu umat Yahudi. Lalu. bagaimana cara membuktikan bahwa
Al-Qur'an’itu salah? Yaitu semua Yahudi di seluruh dunia bersatu dan mereka
berencana, “ Oke, mari kita berbaik hati kepada umat Muslim selama beberapa
tahun, 2-3 tahun. Kita bersikap lebih baik daripada orang Kristen”, maka
Al-Qur’an akan terbukti salah. Snagat mudah, bukan? Umat Yahudi di selurub
dunia bersatu da berbuat baik kepada umat Muslim lalu kemudian “Ayat ini, surat
Al-Maidah(5): 82 itu salah. Lihatlah! Kami lebih baik dari mereka (orang
Kristen)!” Namun, mereka tidak akan pernah melakukannya. Mereka tidak akan
pernah bisa melakukannya sebagaimana Abu Lahab yang tidak akan pernah
mengucapkan dua kalimat syahadat sampai maut menjemputnya.
Bagaimana jika aku
bukan seorang Yahudi. Tapi aku ingin embuktikan Al-Qur’an itu salah? Allah
masih memberikan semua orang kesmpatan. Allah berfirman dalm surat
Al-Isra’(17): 88 yang bunyinya
88. قُل لَّئِنِ ٱجْتَمَعَتِ
ٱلْإِنسُ وَٱلْجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأْتُوا۟ بِمِثْلِ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ
بِمِثْلِهِۦ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
( 88 ) Katakanlah:
"Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al
Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia,
sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".
Maksudnya, jika engkau
mengatakan bahwa Al-Qur’an itu palsu, maka buatlah yang serupa dengan
Al-Qur’an. Tantangan serupa diulang lagi dalam surat At-Tuur(52): 34. Allah
berfirman,
34. فَلْيَأْتُوا۟ بِحَدِيثٍ
مِّثْلِهِۦٓ إِن كَانُوا۟ صَٰدِقِينَ
( 34 ) Maka hendaklah mereka
mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang
benar.
Meskipun seluruh
manusia dan jin bersatu, mereka tidak akan pernah menciptakan yang setara
dengan Al-Qur’an tanpa pertolongan Allah. Ini adalah sebuah tantangan. Dan
Allah membuat tantangan ini semakin mudah. Allah berfirman dalam surat Hud(11)
: 13
13. أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ
ۖ قُلْ فَأْتُوا۟ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِۦ مُفْتَرَيَٰتٍ وَٱدْعُوا۟ مَنِ ٱسْتَطَعْتُم
مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
( 13 ) Bahkan mereka mengatakan:
"Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau
demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang
menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain
Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar".
Lupakan tantangan
sebelumnya tentang membuat kitab yang setara dengan Al-Qur’an! Itu terlalu
sulit. Allah meringankan tantangan menjadi 10 surat yang menyamai Al-Qur’an dan
ajaklah orang-orang yang sanggup membuatnya. Allah membuat tantangannya menjadi
lebih mudah, jauh lebih mudah. Dalam surat Yunus(10) : 38, Allah semakin
memudahkan tantangannya lagi,
38. أَمْ يَقُولُونَ ٱفْتَرَىٰهُ
ۖ قُلْ فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ مَنِ ٱسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ
إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
( 38 ) Atau (patutkah) mereka
mengatakan "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar
yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan
panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah,
jika kamu orang yang benar".
Dri 10 surat, Allah
meringankan tantangannya menjadi satu surat saja, dan mintalah kepada seluruh
manusia selain Allah jika kamu memang engkau orang yang benar. Tidak cukup
sampai disitu, Allah kemudian semakin membuatnya lebih mudah. Allah berfriman
dalam surat Al-Baqarah(2): 23-24 yang berbunyi,
( 23 ) Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang
Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat
(saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah,
jika kamu orang-orang yang benar.
( 24 ) Maka jika kamu tidak dapat
membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah
dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi
orang-orang kafir.
23. وَإِن كُنتُمْ فِى
رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟
شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
24. فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟
وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ
ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ
Dalam ayat ini, Allah
semakin memudahkan tantangannya, dari yang 10 surat menjadi satu surat,
kemudian yang satu surat itu dipermudah lagi dengan keterangan min misli,
yang artinya adalah yang mirip. Sangat mudah,bukan? Bahkan Allah berkali-kali
memberikan keringanan atas uji kepalsuan Al-Qur’an. Tapi apa kata Allah? “Dan
pasti kamu tidak akan bisa membuatnya”. Inilah tantangannya. Buatlah sebuah
surat yang serupa dengan Al-Qur’an. Banyak orang yang sudah mencobanya. Sangat
banyak! Namun mereka gagal total. Mereka bisa membuatnya puitis, tapi jauh dari
kenyataan.
“Berarti dalam ujian
tersebut, saya haruslah orang arab, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa
arab? Bagaimana jika sya bukan orang Arab tetapi saya ingin membuktikan bahwa
Al-Qur’an itu salah?”. Memang benar, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab,
bukan bahasa Inggris, ataupun Jawa, ataupun Sunda. Tetapi Allah masih
memberikan banyak sekali uji kepalsuan kepada wahyu-Nya. Dia awal tulisan ini
dengan surat An-Nisa(3): 82 yang berbunyi
82. أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَٰفًا
كَثِيرًا
( 82 ) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al
Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.
Jadi, jika engkau
ingin memuktikan Al-Qur’an itu salah, kau tinggal menemukan satu saja kontradiksi
di dalamnya. Jadi, siapapun yang dapat menemukan satu saja montradiksi di dalam
Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan terbukti salah. Bukan berarti tidak ada
seorangpun yang mencobanya. Telah banyak orang yang mencobanya. Kalau engkau
cari di laman-laman internet, kau akan menemukan ribuan kontradiksi. Namun,
semuanya entah dikutip keluar dari konteksnya, atau disalah terjemahkan,
ataupun kontradiksi tersebut tidak masuk akal.
Inilah yang disebut
uji kepalsuan di dalam Al-Qur’an. Allah menunjukan cara kepada kita bagaimana
cara membuktikan bahwa Al-Qur’an itu benar dengan jalan memberikan jalan
cara-cara untuk menyelahkannya. Jika engkau berpikir Al-Qr’an tidak berasal
dari Tuhan, dan engkau ingin membuktikan Al-Qur’an itu salah, maka cobalah!
dikutip dari ceramah Dr Zakir Naik
dikutip dari ceramah Dr Zakir Naik
Comments
Post a Comment