Sosial Pengembangan Kuliner Sebagai Sarana Mewujudkan Kemandirian Lokal di Purwokerto



Pengembangan Kuliner Sebagai Sarana Mewujudkan Kemandirian Lokal di Purwokerto

http://purwokertobackpacker.blog.unsoed.ac.id/files/2013/06/Af6983oefH.jpg

Anda pasti pernah mencicipi tempe mendoan, kan? Makanan yang biasa dijual di pinggir jalan ini merupakan makanan yang disukai oleh orang-orang dari berbagai kalangan dan usia. Dan apakah
anda pernah mendengar tentang empal basah? Sebagaimana yang diketahui banyak orang, empal itu digoreng kering, namun empal yang satu ini berkuah, dan terdapat serundeng di dalamnya. Dan apa yang anda pikirkan ketika mendengar kata jenang jaket? Mungkin anda akan membayangkan jaket seperti pada umumnya. Namun, jenang jaket itu adalah makanan, dan tidak ada hubungannya dengan jaket sama sekali. Nah, apakah anda tahu darimana berasalnya makanan-makanan tersebut? Kebanyakan orang pasti tidak mengetahui dari mana asal makanan tersebut, dan bahkan acuh tak acuh terhadap hal tersebut.

            Pernahkah anda memikirkan bahwa makanan-makanan tersebut berasal dari kota kecil yang tak banyak dikenal oleh khalayak umum? Dan ternyata, banyak pula makanan-makanan khas lain yang terkenal yang berasal dari kota ini. Kota ini terletak di selatan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa. Ya, nama kota ini adalah Purwokerto.
Purwokerto merupakan sebuah kota dengan kekayaan kuliner yang tinggi. Kuliner khas Purwokerto banyak yang telah tersebar luas di Indonesia dan banyak disukai, seperti tempe mendoan dan kripik tempe. Tapi, kebanyakan orang tidak tahu bahwa makanan tersebut berasal dari Purwokerto. Selain itu, ada pula makanan yang unik, karena makanan tersebut telah tersebar luas, namun yang di Purwokerto ini memiliki ciri khas tersendiri, contohnya empal basah, getuk goreng, dan serabi dengan toping gula jawa di atasnya. Masih banyak pula makanan khas yang  tidak kalah nikmatnya dengan makanan-makanan lainnya, baik makanan tradisional dari daerah lain maupun makanan modern. Ini adalah potensi yang dapat dikembangkan dan menjadi salah satu tonggak utama kemandirian lokal Kota Purwokerto.
Dari segi perekonomian, Kota Purwokerto merupakan sebuah kota yang mulai berkembang. Kota ini memiliki beberapa potensi, namun pada awalnya kurang dikembangkan. Serta, masyarakat kurang melirik potensi-potensi yang tersedia di kota ini. Potensi-potensi tersebut antara lain, lokasi yang strategis, lahan yang masih luas, akses menuju kota-kota besar lainnya yang mudah, juga tenaga kerja profesional di Purwokerto masih banyak.
Pada awalnya, di kota ini, tidak terlihat aktivitas-aktivitas ekonomi yang signifikan. Potensi-potensi yang ada, tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Purwokerto sendiri. Namun, awal tahun 2000-an, dapat dikatakan sebagai awal kebangkitan kota ini. Berdirinya Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Universitas Jendral Soedirman menarik minat para pemuda dari berbagai kota di Pulau  Jawa. Hal ini memicu berkembangnya aktivitas ekonomi di kota ini. Segala hal mengenai pemenuhan kebutuhan mahasiswa di kota ini pun mulai dibangun, seperti kos-kosan bagi para pelajar, toko-toko laundry, kios-kios pakaian remaja dan sebagainya. Warung-warung makan pun tak mau ketinggalan mengisi perut para mahasiswa yang menjalani siklus lapar 6 jam.  Kios-kios serta toko-toko tersebut bagaikan mekarnya bunga sakura di musim semi.
Hal ini pun memicu laju perekonomian kota ini. Kota purwokerto semakin berkembang dari tahun ke tahun hingga gedung-gedung tinggi mulai memadati kota kripik ini. Hotel megah seperti Hotel Horison, Hotel Aston, dan Hotel Dinasti mulai dibangun bagi para pendatang yang tertarik dengan kota ini, karena Purwokerto pun memiliki potensi pariwisata yang cukup bagus dikarenakkan kota ini terletak di wilayah Gunung Slamet. Baturaden yang menjadi tonggak utama pariwisata kota ini berhasil menarik minat masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah untuk berkunjung ke kota ini. Hal ini semakin mengembangkan perekonomian kota yang dulunya sepi ini.
Perkembangan perekonomian ini didukung oleh pemuda-pemuda yang masih ‘segar’, dalam arti mempunyai banyak energi yang belum terpakai dan semangatnya masih tinggi, sehingga mereka menjadi pihak yang cukup berperan. Adanya berbagai organisasi pemuda yang berperan aktif dalam bidang sosial seperti MPC Pemuda Pancasila Purwokerto dan para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Unsoed, UMP, dan Unwiku menegaskan peran aktif  dan potensi yang besar dari mereka.  
Adanya perkembangan perekonomian yang cepat ini menyebabkan terjadinya perubahan budaya dan sosial yang cukup drastis, termasuk di bidang kuliner. Jika sebelumnya yang biasa dimakan oleh orang Purwokerto adalah makanan tradisionalnya, maka pada saat ini yang biasa dimakan adalah makanan modern. Rumah-rumah makan asing pun mulai menguasai pasar kuliner di ibukota Kabupaten Banyumas ini. Ini menyebabkan terpinggirkannya kuliner tradisional Purwokerto.
            Padahal, seperti yang telah kita sebutkan di atas bahwa kuliner merupakan salah satu hal di Purwokerto yang paling berpotensi untuk dikembangkan. Namun, yang terjadi justru kuliner khas Purwokerto terpinggirkan dan tidak mendapat perhatian yang sepantasnya. Hal ini dapat menghambat terwujudnya kemandirian lokal Purwokerto.
            Inilah masalah yang harus kita selesaikan. Potensi kuliner Purwokerto yang besar, apabila disinergikan dengan potensi pemuda yang ada, dapat menjadi sarana yang sangat memungkinkan terwujudnya kemandirian lokal di Purwokerto. namun, bagaimana cara untuk mewujudkannya?
            Kami telah memikirkan beberapa ide yang diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan ini sebagaimana yang akan kami paparkan di bawah ini.
1.      Mengadakan sebuah perlombaan yang bernama, “Pawon Purwokerto Fest”. Ini adalah lomba yang menuntut pesertanya untuk membuat kreasi yang unik, menarik, inovatif, dan mudah dibuat dari kuliner khas Purwokerto yang telah ada. Yang boleh menjadi peserta ialah warga Banyumas, khususnya Purwokerto. Hasil kreasi tersebut nantinya akan diseleksi oleh dewan juri yang kompeten di bidangnya. Seleksi diadakan di setiap kecamatan di Banyumas. Hasil kreasi yang lolos seleksi akan ditampilkan dalam suatu festival yang diadakan setelah perlombaan selesai. Di dalam festival tersebut diadakan polling untuk menentukan kreasi mana yang paling disukai. Pemenang akan mendapatkan sejumlah uang tunai, serta hasil kreasinya akan diiklankan di saluran televisi ternama di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk semakin menarik minat masyarakat untuk mengikuti perlombaan ini. Kemudian festival tersebut diselenggarakan di pusat kota Purwokerto, yakni alun-alun kota Purwokerto. Adanya festival ini diharapkan dapat menarik pengunjung dari luar Purwokerto yang penasaran untuk mecicipi makanan yang ditampilkan dalam festival ini khususnya, atau makanan khas Purwokerto umumnya.

Peran serta pemuda sangat diharapkan, baik dengan menjadi peserta maupun menjadi bagian dari kepanitiaan. Khusus untuk kepanitiaan, akan ditekankan peran serta dari kalangan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, sebagai salah satu perguruan tinggi yang difavoritkan di Purwokerto, namun tanpa mengabaikan peran serta dari kalangan pemuda lainnya, seperti Pramuka, ormas/LSM, Karang Taruna, dan lain sebagainya.

Untuk pendanaan berasal dari sponsor berupa perusahaan yang terkait dengan kuliner seperti perusahaan kecap, tepung, bumbu, peralatan masak, dsb. Peserta yang mengikuti kompetisi ini diharuskan untuk menggunakan produk-produk pihak sponsor . Ini juga sekaligus sebagai sarana promosi produk pihak sponsor, sehingga mereka pun juga akan mendapatkan keuntungan karena mensponsori acara ini.

Tujuan akhirnya adalah, dengan adanya hasil kreasi yang difestivalkan sehingga dikenal publik dan membuat publik tertarik untuk menirunya agar makanan Purwokerto semakin dikenal dan tersebar luas. Karena, sebagaimana kata pepatah, “Setiap ada inovasi pasti ada imitasi”. Jadi, walaupun jumlah pesertanya tidak banyak, diharapkan efeknya akan begitu terasa di tengah masyarakat. Bahkan, mungkin saja akan muncul tren kuliner baru karena festival ini. Selain itu, hal ini dapat mengembangkan jiwa wirausaha dan kreativitas masyarakat Purwokerto.

2.      Membuat sebuah permainan untuk tablet dan smartphone yang bertujuan untuk mengenalkan makanan-makanan khas Purwokerto. Di dalam permainan ini, para pemain diwajibkan membuat makanan dengan resep yang telah ditetapkan dalam waktu yang terbatas. Resep-resep di permainan ini adalah resep hasil kreasi para peserta Pawon Purwokerto Fest. Pemain akan melakukan berbagai kegiatan memasak, seperti memasukkan bahan-bahan, membuat adonan, memanggang, menggoreng dsb., yang membuat pemain terhibur sekaligus bisa lebih mengenal makanan-makanan Purwokerto. Makanan-makanan dalam permainan ini juga dapat dibuat dalam dunia nyata, karena resep yang digunakan berdasarkan resep makanan asli. Tentunya, kebanyakan pemain dari permainan ini adalah anak-anak. Jadi anak-anak akan lebih mengenal budayanya dan diharapkan dapat menambah rasa cinta akan budayanya.

Mewujudkan kemandirian lokal merupkan tujuan utama diadakannya otonomi daerah. Setiap daerah memiliki potensi masing-masing yang dapat dikembangkan demi terwujudnya itu. Namun, sebagai sebuah negara berkembang, diantara sekian banyak potensi, pemuda merupkan yang paling besar dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Sinergi antara potensi pemuda dengan potensi khas daerah masing-masing menjadi hal yang sangat diusahakan untuk terwujudnya kemandirian lokal. Sebagaimana dalam kasus ini, yakni di Purwokerto, potensi khas yakni kuliner, disinergikan dengan potensi kepemudaan berupa kreativitas dan jiwa kewirausahaan.
            Diadakannya lomba, festival, dan permainan berbasis potensi lokal yakni kuliner, dapat meningkatkan kunjungan ke Purwokerto, meningkatkan jiwa wirausaha dan kreativitas pemuda lokal, memperkenalkan Purwokerto kepada khalayak luas, dan akhirnya, memjukan perekonomian.  Kemajuan perekonomian yang berasal dari pengembangan potensi lokal ini, merupakan langkah awal menuju meningkatnya kemakmuran lokal. Hal ini dapat menjadi faktor yang paling menentukan dalam terwujudnya kemandirian lokal.
 

Comments