Sosial Pengembangan Kuliner Sebagai Sarana Mewujudkan Kemandirian Lokal di Purwokerto
Pengembangan Kuliner Sebagai Sarana Mewujudkan Kemandirian Lokal di
Purwokerto
Anda pasti pernah mencicipi tempe
mendoan, kan? Makanan yang biasa
dijual di pinggir jalan ini merupakan makanan yang disukai oleh orang-orang
dari berbagai kalangan dan usia. Dan apakah
anda pernah mendengar tentang empal
basah? Sebagaimana yang diketahui banyak orang, empal itu digoreng kering,
namun empal yang satu ini berkuah, dan terdapat serundeng di dalamnya. Dan apa
yang anda pikirkan ketika mendengar kata jenang jaket? Mungkin anda akan
membayangkan jaket seperti pada umumnya. Namun, jenang jaket itu adalah makanan,
dan tidak ada hubungannya dengan jaket sama sekali. Nah, apakah anda tahu
darimana berasalnya makanan-makanan tersebut? Kebanyakan orang pasti tidak
mengetahui dari mana asal makanan tersebut, dan bahkan acuh tak acuh terhadap
hal tersebut.
Pernahkah anda
memikirkan bahwa makanan-makanan tersebut berasal dari kota kecil yang tak
banyak dikenal oleh khalayak umum? Dan ternyata, banyak pula makanan-makanan
khas lain yang terkenal yang berasal dari kota ini. Kota ini terletak di selatan
gunung tertinggi kedua di pulau Jawa. Ya, nama kota ini adalah Purwokerto.
Purwokerto merupakan sebuah kota
dengan kekayaan kuliner yang tinggi. Kuliner khas Purwokerto banyak yang telah
tersebar luas di Indonesia dan banyak disukai, seperti tempe mendoan dan kripik
tempe. Tapi, kebanyakan orang tidak tahu bahwa makanan tersebut berasal dari
Purwokerto. Selain itu, ada pula makanan yang unik, karena makanan tersebut
telah tersebar luas, namun yang di Purwokerto ini memiliki ciri khas
tersendiri, contohnya empal basah, getuk goreng, dan serabi dengan toping gula
jawa di atasnya. Masih banyak pula makanan khas yang tidak kalah nikmatnya dengan makanan-makanan
lainnya, baik makanan tradisional dari daerah lain maupun makanan modern. Ini
adalah potensi yang dapat dikembangkan dan menjadi salah satu tonggak utama
kemandirian lokal Kota Purwokerto.
Dari segi perekonomian, Kota
Purwokerto merupakan sebuah kota yang mulai berkembang. Kota ini memiliki
beberapa potensi, namun pada awalnya kurang dikembangkan. Serta, masyarakat
kurang melirik potensi-potensi yang tersedia di kota ini. Potensi-potensi
tersebut antara lain, lokasi yang strategis, lahan yang masih luas, akses
menuju kota-kota besar lainnya yang mudah, juga tenaga kerja profesional di
Purwokerto masih banyak.
Pada awalnya, di kota ini, tidak
terlihat aktivitas-aktivitas ekonomi yang signifikan. Potensi-potensi yang ada,
tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat Purwokerto sendiri.
Namun, awal tahun 2000-an, dapat dikatakan sebagai awal kebangkitan kota ini.
Berdirinya Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan Universitas Jendral
Soedirman menarik minat para pemuda dari berbagai kota di Pulau Jawa. Hal ini memicu berkembangnya aktivitas
ekonomi di kota ini. Segala hal mengenai pemenuhan kebutuhan mahasiswa di kota
ini pun mulai dibangun, seperti kos-kosan bagi para pelajar, toko-toko laundry,
kios-kios pakaian remaja dan sebagainya. Warung-warung makan pun tak mau
ketinggalan mengisi perut para mahasiswa yang menjalani siklus lapar 6
jam. Kios-kios serta toko-toko tersebut
bagaikan mekarnya bunga sakura di musim semi.
Hal ini pun memicu laju perekonomian
kota ini. Kota purwokerto semakin berkembang dari tahun ke tahun hingga
gedung-gedung tinggi mulai memadati kota kripik ini. Hotel megah seperti Hotel
Horison, Hotel Aston, dan Hotel Dinasti mulai dibangun bagi para pendatang yang
tertarik dengan kota ini, karena Purwokerto pun memiliki potensi pariwisata
yang cukup bagus dikarenakkan kota ini terletak di wilayah Gunung Slamet. Baturaden
yang menjadi tonggak utama pariwisata kota ini berhasil menarik minat
masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah untuk berkunjung ke kota ini. Hal ini
semakin mengembangkan perekonomian kota yang dulunya sepi ini.
Perkembangan perekonomian ini
didukung oleh pemuda-pemuda yang masih ‘segar’, dalam arti mempunyai banyak energi
yang belum terpakai dan semangatnya masih tinggi, sehingga mereka menjadi pihak
yang cukup berperan. Adanya berbagai organisasi pemuda yang berperan aktif
dalam bidang sosial seperti MPC Pemuda Pancasila Purwokerto dan para mahasiswa
dari berbagai perguruan tinggi seperti Unsoed, UMP, dan Unwiku menegaskan peran
aktif dan potensi yang besar dari
mereka.
Adanya perkembangan perekonomian
yang cepat ini menyebabkan terjadinya perubahan budaya dan sosial yang cukup
drastis, termasuk di bidang kuliner. Jika sebelumnya yang biasa dimakan oleh
orang Purwokerto adalah makanan tradisionalnya, maka pada saat ini yang biasa
dimakan adalah makanan modern. Rumah-rumah makan asing pun mulai menguasai
pasar kuliner di ibukota Kabupaten Banyumas ini. Ini menyebabkan
terpinggirkannya kuliner tradisional Purwokerto.
Padahal, seperti
yang telah kita sebutkan di atas bahwa kuliner merupakan salah satu hal di Purwokerto
yang paling berpotensi untuk dikembangkan. Namun, yang terjadi justru kuliner
khas Purwokerto terpinggirkan dan tidak mendapat perhatian yang sepantasnya.
Hal ini dapat menghambat terwujudnya kemandirian lokal Purwokerto.
Inilah masalah
yang harus kita selesaikan. Potensi kuliner Purwokerto yang besar, apabila
disinergikan dengan potensi pemuda yang ada, dapat menjadi sarana yang sangat
memungkinkan terwujudnya kemandirian lokal di Purwokerto. namun, bagaimana cara
untuk mewujudkannya?
Kami telah
memikirkan beberapa ide yang diharapkan dapat menjadi solusi dari permasalahan
ini sebagaimana yang akan kami paparkan di bawah ini.
1.
Mengadakan sebuah perlombaan yang bernama, “Pawon Purwokerto Fest”.
Ini adalah lomba yang menuntut pesertanya untuk membuat kreasi yang unik,
menarik, inovatif, dan mudah dibuat dari kuliner khas Purwokerto yang telah
ada. Yang boleh menjadi peserta ialah warga Banyumas, khususnya Purwokerto. Hasil
kreasi tersebut nantinya akan diseleksi oleh dewan juri yang kompeten di
bidangnya. Seleksi diadakan di setiap kecamatan di Banyumas. Hasil kreasi yang
lolos seleksi akan ditampilkan dalam suatu festival yang diadakan setelah perlombaan
selesai. Di dalam festival tersebut diadakan polling untuk menentukan kreasi
mana yang paling disukai. Pemenang akan mendapatkan sejumlah uang tunai, serta
hasil kreasinya akan diiklankan di saluran televisi ternama di Indonesia. Hal
ini bertujuan untuk semakin menarik minat masyarakat untuk mengikuti perlombaan
ini. Kemudian festival tersebut diselenggarakan di pusat kota Purwokerto, yakni
alun-alun kota Purwokerto. Adanya festival ini diharapkan dapat menarik pengunjung
dari luar Purwokerto yang penasaran untuk mecicipi makanan yang ditampilkan
dalam festival ini khususnya, atau makanan khas Purwokerto umumnya.
Mengadakan sebuah perlombaan yang bernama, “Pawon Purwokerto Fest”.
Ini adalah lomba yang menuntut pesertanya untuk membuat kreasi yang unik,
menarik, inovatif, dan mudah dibuat dari kuliner khas Purwokerto yang telah
ada. Yang boleh menjadi peserta ialah warga Banyumas, khususnya Purwokerto. Hasil
kreasi tersebut nantinya akan diseleksi oleh dewan juri yang kompeten di
bidangnya. Seleksi diadakan di setiap kecamatan di Banyumas. Hasil kreasi yang
lolos seleksi akan ditampilkan dalam suatu festival yang diadakan setelah perlombaan
selesai. Di dalam festival tersebut diadakan polling untuk menentukan kreasi
mana yang paling disukai. Pemenang akan mendapatkan sejumlah uang tunai, serta
hasil kreasinya akan diiklankan di saluran televisi ternama di Indonesia. Hal
ini bertujuan untuk semakin menarik minat masyarakat untuk mengikuti perlombaan
ini. Kemudian festival tersebut diselenggarakan di pusat kota Purwokerto, yakni
alun-alun kota Purwokerto. Adanya festival ini diharapkan dapat menarik pengunjung
dari luar Purwokerto yang penasaran untuk mecicipi makanan yang ditampilkan
dalam festival ini khususnya, atau makanan khas Purwokerto umumnya.
Peran serta
pemuda sangat diharapkan, baik dengan menjadi peserta maupun menjadi bagian
dari kepanitiaan. Khusus untuk kepanitiaan, akan ditekankan peran serta dari
kalangan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman, sebagai salah satu perguruan
tinggi yang difavoritkan di Purwokerto, namun tanpa mengabaikan peran serta
dari kalangan pemuda lainnya, seperti Pramuka, ormas/LSM, Karang Taruna, dan
lain sebagainya.
Untuk pendanaan
berasal dari sponsor berupa perusahaan yang terkait dengan kuliner seperti perusahaan
kecap, tepung, bumbu, peralatan masak, dsb. Peserta yang mengikuti kompetisi
ini diharuskan untuk menggunakan produk-produk pihak sponsor . Ini juga
sekaligus sebagai sarana promosi produk pihak sponsor, sehingga mereka pun juga
akan mendapatkan keuntungan karena mensponsori acara ini.
Tujuan akhirnya
adalah, dengan adanya hasil kreasi yang difestivalkan sehingga dikenal publik
dan membuat publik tertarik untuk menirunya agar makanan Purwokerto semakin
dikenal dan tersebar luas. Karena, sebagaimana kata pepatah, “Setiap ada
inovasi pasti ada imitasi”. Jadi, walaupun jumlah pesertanya tidak banyak,
diharapkan efeknya akan begitu terasa di tengah masyarakat. Bahkan, mungkin
saja akan muncul tren kuliner baru karena festival ini. Selain itu, hal ini
dapat mengembangkan jiwa wirausaha dan kreativitas masyarakat Purwokerto.
2.
Membuat sebuah permainan untuk tablet dan smartphone yang
bertujuan untuk mengenalkan makanan-makanan khas Purwokerto. Di dalam permainan
ini, para pemain diwajibkan membuat makanan dengan resep yang telah ditetapkan
dalam waktu yang terbatas. Resep-resep di permainan ini adalah resep hasil
kreasi para peserta Pawon Purwokerto Fest. Pemain akan melakukan berbagai
kegiatan memasak, seperti memasukkan bahan-bahan, membuat adonan, memanggang,
menggoreng dsb., yang membuat pemain terhibur sekaligus bisa lebih mengenal
makanan-makanan Purwokerto. Makanan-makanan dalam permainan ini juga dapat
dibuat dalam dunia nyata, karena resep yang digunakan berdasarkan resep makanan
asli. Tentunya, kebanyakan pemain dari permainan ini adalah anak-anak. Jadi
anak-anak akan lebih mengenal budayanya dan diharapkan dapat menambah rasa
cinta akan budayanya.
Membuat sebuah permainan untuk tablet dan smartphone yang
bertujuan untuk mengenalkan makanan-makanan khas Purwokerto. Di dalam permainan
ini, para pemain diwajibkan membuat makanan dengan resep yang telah ditetapkan
dalam waktu yang terbatas. Resep-resep di permainan ini adalah resep hasil
kreasi para peserta Pawon Purwokerto Fest. Pemain akan melakukan berbagai
kegiatan memasak, seperti memasukkan bahan-bahan, membuat adonan, memanggang,
menggoreng dsb., yang membuat pemain terhibur sekaligus bisa lebih mengenal
makanan-makanan Purwokerto. Makanan-makanan dalam permainan ini juga dapat
dibuat dalam dunia nyata, karena resep yang digunakan berdasarkan resep makanan
asli. Tentunya, kebanyakan pemain dari permainan ini adalah anak-anak. Jadi
anak-anak akan lebih mengenal budayanya dan diharapkan dapat menambah rasa
cinta akan budayanya.
Mewujudkan
kemandirian lokal merupkan tujuan utama diadakannya otonomi daerah. Setiap
daerah memiliki potensi masing-masing yang dapat dikembangkan demi terwujudnya
itu. Namun, sebagai sebuah negara berkembang, diantara sekian banyak potensi,
pemuda merupkan yang paling besar dan tersebar di seluruh daerah di Indonesia.
Sinergi antara potensi pemuda dengan potensi khas daerah masing-masing menjadi
hal yang sangat diusahakan untuk terwujudnya kemandirian lokal. Sebagaimana
dalam kasus ini, yakni di Purwokerto, potensi khas yakni kuliner, disinergikan
dengan potensi kepemudaan berupa kreativitas dan jiwa kewirausahaan.
Diadakannya
lomba, festival, dan permainan berbasis potensi lokal yakni kuliner, dapat
meningkatkan kunjungan ke Purwokerto, meningkatkan jiwa wirausaha dan
kreativitas pemuda lokal, memperkenalkan Purwokerto kepada khalayak luas, dan
akhirnya, memjukan perekonomian.
Kemajuan perekonomian yang berasal dari pengembangan potensi lokal ini,
merupakan langkah awal menuju meningkatnya kemakmuran lokal. Hal ini dapat
menjadi faktor yang paling menentukan dalam terwujudnya kemandirian lokal.
Comments
Post a Comment